Sabtu, 06 Agustus 2011
In:
original
Cerpen_Setetes Embun di Tengah Kegersangan
Setetes Embun Di Tengah Kegersangan
Karya Nina Septina
“terimakasih banyak dokter atas bantuannya, tanpa kebaikan hati dokter saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dan apa yang akan terjadi pada anak saya.” Kata Ibu Marni dengan mata berkaca-kaca.
“sama-sama, bu. Mudah-mudahan si kecil Dani cepat sembuh ya.” Kata dokter Karlina dengan suara lembutnya.
Ibu Marni melangkah keluar dari ruang praktik dokter Karlina dengan perasaan terharu bercampur aduk dengan perasaan lega pula. Sebelumnya dia bingung sekali karena Dani anak bungsunya yang saay itu berumur 3 tahun mengalami panas tinggi sejak 3 hari yang lalu. Karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang, Ibu Marni tidak membawa Dani ke puskesmas atau dokter. Upah suaminya yang seorang buruh tani hanya cukup untuk makan apa adanya, bahkan terkadang mereka terpaksa makan kurang dari tiga kali sehari ataupun berpuasa karena tidak dapat membeli beras.
Untunglah tetangga sekitarnya memberikan alternatif untuk membawa Dani ke dokter Karlina. Karena dari informasi pasien-pasien yang pernah berobat kesana, dokter Karlina adalah orang yang baik, sabar dan mempunyai rasa sosial yang sangat tinggi. Pasien yang tidak memiliki biaya tetap dia layani dengan baik, dan dia bebaskan dari biaya jasa dan obat. Dengan memberanikan diri karena sudah tidak tega melihat kondisi Dani yang semakin lemah, Ibu Marni berangkat ke tempat praktik dokter Karlina dengan hati yang gusar karena dia takut akan biaya pemeriksaan anaknya. Alhamdulillah, ternyata apa yang dikatakan oleh tetangganya itu benar, bukan sekedar isapan jempol belaka. Dengan penuh kesabaran, dokter Karlina memeriksa Dani dan mengobatinya. Bahkan dengan ikhlas dokter Karlina membebaskan Ibu Marni dari biaya pengobatan anaknya.
Ya.. itulah sekilas tentang sosok dokter Karlina yang mengabdikan diri untuk melayani masyarakat secara total tanpa berorientasi pada materi saja, tetapi lebih untuk menyumbangkan tenaga dan pikirannya di bidang kedokteran. Masyarakat sangat senang dengan kehadiran dokter Karlina yang mempunyai jiwa penolong itu. Setidaknya masalah kesehatan di wilayah mereka terpecahkan karena dokter Karlina juga merupakan sosok yang dapat diajak diskusi dan dapat menjadi pendengar yang baik pula.
Tidak terasa satu tahun sudah berlalu. Semenjak dokter Karlina ditempatkan sebagai dokter PTT di salah satu desa kecil di Pasuruan Jawa Timur. Selama itu pula dia tidak merasakan tugasnya sebagai beban, justru sebaliknya semua dia nikmati da dia jalani saja seperti air yang mengalir.
Sore itu, hujan turun dengan derasnya dan disertai oleh angin yang berhembus kencang. Di tempat praktinya, dia duduk sendirian dan memandangi suasana di luar melalui kaca jendela. “Ah, sore ini pasti pasien tidak akan ramai, maklum hujan turun sangat deras.” Gumamnya dalam hati. Sambil menikmati suara gemercik air hujan yang jatuh dan sesekali terlihat cahaya kilat yang memancar di cakrawala. Pikirannya pun melayang jauh ke masa lalunya. Kenangan masa kanak-kanak hingga dewasa yang akhirnya membawa dia menjadi seperti saat ini. Lembaran demi lembaran hidupnya tiba-tiba terbentang di dalam pikirannya yang bercampur aduk menjadi satu. Ada tawa, sedih, galau, kecewa dan perasaan lain yang sulit untuk digambarkan oleh kata-kata. Tanpa terasa tetesan air mata mengalir tanpa dia sadari, dia merasa betapa kecil rasanya dia di dunia yang hanya sesaat ini dan alangkah besarnya kuasa Allah.
Melintas kembali ingatannya tentang masa kecil yang dilaluinya. Dia lahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya seorang pegawai swasta. Sebenarnya penghasilan ayahnya cukup untuk menghidupi keluarga. Namun kebiasaan buruk sang ayah yang gemar berjudi membawa mereka pada suatu penderitaan yang cukup panjang. Akibat kebiasaan berjudi yang sering berakhir dengan kekalahan membuat perekonomian keluarganya menjadi morat-marit dan terjerat hutang dimana-mana. Jangankan untuk menikmati hidup seperti teman-temanya, untuk makan saja terasa begitu sulit. Tak jarang saat dia masih kecil, dia harus menjual dulu baju-baju bekas di suatu pasar yang dikenal sebagai pasar Rombeng agar keempat kakak-kakaknya dapat sarapan sebelum berangkat untuk bersekolah. Memang sejak kecil dia terbiasa hidup keras, sekalipun dia anak bungsu di keluarganya. Rasa sayang dan kasihan kepada kakak-kakaknya dan Ibunya membuat dia menepiskan rasa malu dan takut. Yang terpenting dia dapat melakukan sesuatu untuk keluarganya. Begitu juga saat rentenir yang datang untuk menagih hutang ayahnya, bila ibunya tidak ada dirumah maka dialah yang akan maju menghadapi orang itu yang terkadang kerap marah dan berteriak-teriak. Bila mengingat hal itu, terasa ada yang menyesak di dadanya. Namun Karlina kecil juga masih menikmati masa kanak-kanaknya yang penuh keceriaan dan tawa.
Dia tumbuh menjadi anak yang pandai bergaul, suka menolong dan ramah, sehingga banyak teman yang menyukainya. Dalam masalah sekolah pun dia cukup berprestasi. Gelar juara kelas atau minimal mendapat rangking tiga selalu dia peroleh. Prestasinya di kegiatan ekskul juga cukup membanggakan. Entah mengapa sejak kecil dia sudah sangat berminat dalam kegiatan-kegiatan yang bernilai sosial. Agaknya pengalaman hidup turut menyumbangkan andil yang besar untuk membentuk kepribadiannya hingga dia tumbuh menjadi dewasa.
Waktu pun berlalu dengan cepatnya. Masa SMP dan SMA dia lalui dengan tertatih-tatih. Kondisi perekonomian keluarga tidak juga membaik, justru yang terjadi sebaliknya. Kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya pendidikan terus meningkat. Namun dia dan saudara-saudaranya pantang menyerah. Mereka bertekad untuk tetap berjuang untuk menggapai cita-citanya, walaupun dalam segala keterbatasan.
Masa tersulit yang harus dilaluinya yaitu saat menjelang kelulusan SMA. Terjadi pergulatan batin yang hebat, karena dia dihadapkan pada dilema yang sangat sulit yaitu antara bekerja atau melanjutkan sekolah untuk menjadi seorang dokter. Saat itu perusahaan yang memiliki yayasan pendidikan dimana dia bersekolah, menawarkan suatu pekerjaan di laboratorium perusahan tersebut sebagai pegawai tetap. Kemudahan ini didapat berdasarkan masukan-masukan dari para guru di sekolah atas prestasi yang dia dapatkan, terutama dalam bidang biologi dan eksak lainnya.
Beruntunglah ibunya mendukung sepenuh hati keinginan putri bungsunya untuk menjadi dokter.
“Baiklah nak kalau memang hatimu mantap untuk kuliah di kedokteran. Ibu dukung sepenuhnya, entah bagaimana cara ibu untuk membiayai nantinya, yang penting kamu serius belajar!” kata ibunya saat itu.
Tetapi yang kontra dan mencibir juga tak kalah banyaknya. Pernah suatu saat seorang tetangga menyindirnya dengan kalimat yang menyakitkan telinga.
“Dasar sombong! Sudah tau orang tuanya tidak mampu, malah menolak pekerjaan yang sudah didepan mata dan mau masuk kedokteran. Apa dia tidak tahu biayanya mahal. Mana mungkin bisa menjadi dokter, hidup sehari-hari saja sulit.”
Bahkan ayahnya pun menentang dengan kata-kata kasar pada ibunya.
“Memang mau dengan apa kau sekolahkan anakmu di kedokteran? Dasar kau tinggi hati. Makan tuh gengsimu untuk menjadikan anakmu dokter. Pekerjaan yang menghasilkan uang malah ditolak. Dasar bodoh kau!”
Namun tekad yang kuat mengalahkan sindiran-sindiran dari tetangga dan ayahnya. Sebagai pekerja harian lepas di pabrik kertas, ibunya bekerja keras untuk mencarikan biaya kuliah. Walaupun harus berhutang, gali lubang tutup lubang. Karlina juga tetap berusaha belajar secara optimal dan hidup sangat prihatin agar uang kiriman ibunya cukup untuk hidup sebagai anak kost. Bahkan ia pernah hanya makan nasi dan sepotong bakwan saja, karena uang kiriman ibunya sudah sangat menipis. Dengan memutar otak Karlina pun berusaha mencari uang tambahan untuk kuliah. Untunglah dia memiliki sedikit kelebihan pada mata pelajaran bahasa Inggris. Dengan berbekal kemampuan itu, dia memberi privat bahasa Inggris pada seorang siswa SMP. Lumayan untuk menambah keuangannya. Bahkan dia juga menyalin kembali bahan kuliah dosennya dan diperbanyak untuk teman-teman kuliahnya, dari itu dia juga memperoleh sedikit keuntungan. Segala peluang dia manfaatkan yang penting semua itu halal.
Begitulah, dengan tertatih-tatih dan penuh keprihatinan akhirnya gelar dokter dia raih juga. Satu tekad bulat di hatinya yaitu mengabdi kepada masyarakat melalui profesinya, menolong orang-orang tidak mampu yang memerlukan pertolongannya. Semakin hari dia semakin yakin dan sadar bahwa kepuasan tidak hanya diukur dari materi saja, tetapi sangat lebih dari itu. Tatapan mata pasien yang menyiratkan rasa terimakasih, rasa sayang dan rasa memiliki masyarakat sekitar kepadanya memberikan kepuasan tersendiri bagi Karlina.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
“Dokter, dokter, tolong dok...! anak saya demam tinggi.” Suara panik dari seorang wanita yang menggendong anaknya yang sedang sakit.
Seketika lamunan dokter Karlina dibuyarkan oleh suara itu.
“Ah, rupanya aku sudah melamun terlalu jauh.” Gumam dokter Karlina. Dia segera bangkit dan bergegas melayani pasiennya itu. Ya.. tugas mulia sudah menantimu dokter. Pasien-pasien sudah menanti uluran tangan dan kelembutan hatimu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar